Apakah Blogger ini Menarik?

Monday, May 30, 2011

Psikologi Pendidikan (Tanggapan)

BAB I
PENDAHULUAN


Psikologi adalah ilmu yang sudah mulai berkembang sejak abad 17 dan 18 serta nampak pesat kemajuannya pada abad 20. Pada awalya ilmu ini adalah bagian daripada filsafat sebagaimana pula ilmu-ilmu yang lain seperti misalnya ilmu hukum tatanegara maupun ilmu ekonomi, namun kemudian memisahkan diri da n berdiri sebagai ilmu tersendiri.
Semuanya itu bersumber dari tuhan yang maha esa sebagai pencipta segala sesuatu,dan hasil ciptaan itulah yang menjadi obyek atau sasaran dari berbagai cabang ilmu pengetahuan.karenanya sebagai sumber ilmu pengetahuan adalah tuhan yang naha esa.yang lahir pertama kali adalah filsafat,yang membahas hakekat segala sesuatu.dari padanya lahirlah berbagai cabang ilmu pengetahuan,oleh karna itu dalam semua ilmu-ilmu yang telah memisahkan diri dari filsafat itu akan dijumpai tokoh-tokoh filsafat kuno seperti:socrates,plato dan aristoteles yang ikut mengembangkan fikiran dan penemuannya dalam ilmu-ilmu tersebut sehinga tokoh-tokoh nanti akan dijumpai juga dalam mempelajari psikologi serta cabang-cabang psikologi.
Sesungguhnya tiap-tiap orang perlu sekali mengetahui dasar Ilmu jiwa umum, dalam pergaulan hidup sehari-hari, Ilmu jiwa perlu sebagai dasar pengetahuan untuk dapat memahami jiwa orag lain.
Kita dapat mengingat kembali sesuatu yang pernah kita amati. Gambaran ingatan dari sesuatu pengamatan disebut tanggapan, pemakalah disini akan mengupas habis tentang masalah tanggapan dan hal-hal yang ada disekitarnya.


BAB II
PEMBAHASAN

TANGGAPAN
1) Pengertian Tanggapan

Tanggapan biasa didefinisikan sebagai bayangan yang menjadikan kesan yang dihasilkan dari pengamatan. Kesan tersebut menjadi isi kesadaran yang dapat dikembangkan dalam hubungannya dengan konteks pengalaman waktu sekarang serta antisipasi keadaan untuk masa yang akan datang.
Menanggap dapat diartikan sebagai mereaksi stimuli dengan membangun kesan pribadi yang berorientasi kepada pengamatan masa lalu, pengamatan masa sekarang, dan masa yang akan datang.
Menurut Johann Federich Herbart (1776-1841), tanggapan adalah merupakan unsur dasar dari jiwa manusia. Tanggapan dipandang sebagai kekuatan psikologis yang dapat menolong atau menimbulkan keseimbangan, ataupun merintangi atau merusak keseimbangan. Tanggapan diperoleh dari pengindraab dan pengamatan. Tanggapan-tanggapan ada yang berada dalam kesadaran, dan kebanyakan berada di bawah sadar. Diantara kedua keasadaran terdapat batas pemisah yang disebut “ ambang kesadaran ”. tanggapan yang mengendap di bawah kesadaran dapat muncul kembali ke alam kesadaran, dan yang semula memang berada di ambang kesadaran itu selalu ada dan muncul secara mekanis.
Tanggapan yang lemah adalah secara statis alam, sedangkan tanggapan yang kuat adalah lebih besar kecenderungannya untuk muncul kembali ke alam kesadaran. Kemunculan tanggapan ke alam kesadaran itu menunggu adanya rangsangan yang relevan atau dapat bersatu dengan tanggapan yang bersangkutan. Hal ini terjadi dengan menggunakan tanggapan ingatan ataupun antisipasi tanggapan yang akan datang, kecuali pada bayi yang ingatan dan fantasinya belum berfungsi.
Tanggapan yang muncul ke alam kesadaran dapat mendapat dukungan atau mungkin juga rintangan dari tanggapan lain. Dukungan terhadap tanggapan akan menimbulkan rasa senang. Sedangkan rintangan terhadap tanggapan akan menimbulkan rasa tidak senang. Kecenderungan untuk mempertahankan rasa tidak senang dan menghilangkan rasa tidak senang memancing bekerjanya kekuatan kehendak atau kemauan. Kemauan ini sebgai penggerak tingkah laku, maka hendaknya pendidikan mampu mengembangkan dan mengontrol tanggapan-tanggapan yang ada pada anak didik, sehingga dengan demikian akan berkembang suatu kondisi motivasi bagi perbuatan belajar anak didik.
Untuk memudahkan pensifatan tanggapan biasanya ditempuh dengan jalan membuat perbandingan antara tanggapan dan pengamaatan. Adapun perbandingan antara tanggapan dan pengamata itu secara garis besarnya dapat diikhtisarkan sebagai berikut.
Perbedaan antara tanggapan dan pengamatan
Tanggapan Pengamatan
1. Cara tersedianya objek disebut representasi Cara tersedianya objek disebut presentasi
2. Objek tidak ada pada dirinya sendiri tetapi ada pada diri subjek yang menanggap Objek ada pada dirinya sendiri
3. Objek hanya ada dan untuk subjek yang menanggap Objek ada bagi setiap orang
4. Terlepas dari unsur tempat, keadaan dan waktu Terikat pada tempat, keadaan dan waktu

2) Macam-Macam Tanggapan

Menurut Buku Drs. Wasty Soemanto Tanggapan dapat dibedakan menjadi 3, yaitu:
- Tanggapan masa lampau yang sering disebut sebagai tanggapan ingatan.
- Tanggapan masa sekarang yang dapat disebut sebagai tanggapan imajinatif.
- Tanggapan masa mendatang yang biasa disebut sebagai tanggapan antisipasif.

Sedangkan, Menurut Internet Tanggapan dapat dibedakan menjadi 3, yaitu :

- Menurut alat indra yang berperanan dalam waktu mengamati : ada tanggapan
 Visual ( penglihatan ), Auditif ( pendengaran ), penciuman, dan sebagainya.
 - Menurut terjadinya : ada tanggapan ingatan, ada tanggapan fantasi.
- Menurut terikatnya : tanggapan benda dan ada tanggapan kata.

3) Tipe-Tipe Tanggapan

1. Bayangan Eidentik

Bayangan Eidentik ialah tanggapan yang jelas dan hidup sehingga menyerupai pengamatan. (eidos=bayangan/ areal).
Bayangan Eidentik banyak terdapat pada anak-anak. Ada 2 macam tipe anak eidentik, ialah :
a. Tipe Tetanoid atau Tipe T : Bayangan eidentik bagi tipe ini tidak lekas timbul dengan sendirinya atau ditimbulkan.
b. Tipe Basedoid atau Tipe B : Bayangan bagi tipe ini mudah ditimbulkan secara mendadak atau spontan.

2. Proses Pengiring

Proses pengiring ialah besar kecilnya pengaruh dari kesan-kesan yang dimiliki. Dapat dibedakan dalam 2 macam ialah :
- Fungsi sekunder, artinya pengaruh dari kesan yag telah dimiliki besar sekali, ia sukar melupakan pengalaman-pengalaman pada masa lampau. Jadi kesan-kesan masa lampau selalu berada di ruang kesadaran, sukar dimasukan di bawah kesadaran, sukar menyesuaikan diri.
- Fungsi primer, artinya pengaruh-pen garuh dari kesan yang telah dimiliki sejak kecil sekali. Ia mudah melupakan pengalaman masa lampau, mudah masuk kebawah sadar, mudah menyesuaikan diri. Hal ini besar pengaruhnya pada watak seseorang.

3. Reproduksi

Reproduksi ialah kembalinya suatu tanggapan dari ruang bawah sadar ke ruang kesadaran.
Reproduksi dapat terjadi dengan alat-alat perantara atau tanpa perantara. Yang dengan perantara, misalnya karena pengaruh perkataan : kita membaca perkataan Surabaya, maka timbullah tanggapan-tanggapan tentang kebun binatang., tugu pehlawan, jembatan merah dan sebagainya. Sedang yang tanpa perantara terjadi karena kekuatan sendiri timbul di ruang kesadaran. Reproduksi ini dapat terjadi tidak dengan sengaja atau pun dengan sengaja.

4. Asosiasi

Asosiasi, ialah ikatan antara tanggapan yang satu dengan yang lain didalam jiwa. Tanggapan yang berasosiasi berkecenderungan untuk memproduksi, artinya jika yang satu disadari, maka yang lain ikut disadari pula.
Asosiasi terjadi mekanis, dengan sendirinya, menurut hukum-hukum tertentu. Herbart (pendidik bahasa jerman) mengemukakan 5 hukum asosiasi yang mula-mula berasal dari Aristoteles, sebagai berikut:

a. Hukum sama waktu atau serentak: artinya beberapa tanggapan yang dialami waktu yang sama akan bersatu dengan lainnya. Misalnya antara bentuk benda dengan namanya, dengan rasanya, dengan baunya, dengan warnanya: karena pada waktu kita mengamati bentuk benda tersebut sekaligus kita telah mendengar namanya, membau-nya, mengenyam rasanya, melihat warnanya dan sebagainya.

b. Hukum berurutan : artinya beberapa yang kita alami berturut-turut yang satu dengan yang lain akan beasosiasi. Misalnya kakak dengan adik-adiknya, abjad a, b, c, d, dengan angka 1 2 3 4 dan sebagainya.

c. Hukum serupa atau persamaan : artinya beberapa tanggapan yang serupa, sejenis, identik, dan sebagainya, satu dengan yang lainnya akan berasosiasi. Dengan catatan bahwa yang lama atau yang sering dialami akan dijadikan pedoman. Misalnya : seorang anak untuk pertama kali melihat harimau di kebun binatang. Ia teringat pada kucing besar.

d. Hukum berlawanan : artinya tanggapan-tanggapan yang berlawanan satu dengan yang lainnya akan berasosiasi. Misalnya : sangat gemuk dan sangat kurus, sangat besar dengan sangat kecil, sangat tinggi dengan sangat pendek dan sebagainya.

e. Hukum logis : atau hukum sebab akibat, artinya suatu tanggapan yang sedang kita alami akan mengingatkan kita kepada sebab-sebab atau pun akibat-akibatnya. Misalnya hujan lebat akan mengingatkan mendung dapat pula mengingatkan banjir dan sebagainya.

Oleh karena aliran ilmu jiwa modern hukum-hukum asosiasi ini disederhanakan sebagai berikut:
- Hukum kontiuitet (berdampingan), artinya beberapa tanggapan yang dialami pada waktu yang sama atau berturut-turut.
- Hukum persamaan atau serupa.
- Hukum berlawanan.

5. Apersepsi

Apersepsi (aperseption), ialah pengamatan yang dilakukan dengan sadar terhadap bahan-bahan dari luar (menurut Leibnitz).
Menurut Wundt, apersepsi ialah proses kemauan yang memimpin jalannya pekerjaan jiwa dan yang menempatkan gejala kejiwaan pada pusat kesadaran di dalam hubungan kategorial, artinya menurut jenis, golongan, dan bagian.

Tipe tanggapan menurut macam indera yang dipergunakan untuk membentuk tanggapan-tanggapan, maka dapat digolongkan dalam beberapa tipe ialah :

a. Permata (visueel), ialah orang yang mudah memahami sesuatu yang dilihatnya.
b. Penelinga (auditief), ialah orang yang mudah memahami sesuatu yang didengarnya.
c. Penganggota (motoris), ialah orang yang mudah memahami sesuatu yang diikuti dengan gerakan.
d. Peraba (tactile), ialah orang yang mudah memahami sesuatu yang dirabanya.


BAB III
KESIMPULAN

Tanggapan ialah bekas atau gambaran dari sesuatu pengamatan, yang tinggal dalam lubuk jiwa kita sehingga boleh disebut gambaran ingatan.
Menurut Buku Drs. Wasty Soemanto Tanggapan dapat dibedakan menjadi 3, yaitu:
- Tanggapan masa lampau yang sering disebut sebagai tanggapan ingatan.
- Tanggapan masa sekarang yang dapat disebut sebagai tanggapan imajinatif.
- Tanggapan masa mendatang yang biasa disebut sebagai tanggapan antisipasif.

Sedangkan, Menurut Internet Tanggapan dapat dibedakan menjadi 3, yaitu :

- Menurut alat indra yang berperanan dalam waktu mengamati : ada tanggapan
 Visual ( penglihatan ), Auditif ( pendengaran ), penciuman, dan sebagainya.
- Menurut terjadinya : ada tanggapan ingatan, ada tanggapan fantasi.
- Menurut terikatnya : tanggapan benda dan ada tanggapan kata.

Tipe-Tipe Tanggapan
1. Bayangan Eidentik
2. Proses Pengiring
3. Reproduksi
4. Asosiasi
5. Apersepsi


Friday, May 27, 2011

Hadist Tentang Ilmu

A. Definisi Ilmu

Ilmu ditafsirkan dengan sifat yang kalau dimiliki oleh seseorang maka menjadi jelaslah apa yang terlintas didalam pengertiannya.

Figih adalah pengetahuan tentang kelembutan-kelembutan ilmu.ujar Abu Hanifah: fiqih adalah pengetahuan hal-hal yang berguna, yang berbahaya bagi diri seseorang. Ujarnya lagi : ilmu itu hanya untuk diamalkan nya, sedang mengamalkan disini berarti meninggalkan orientasi dunia demi akhirat. Maka seyogyanya manusia jangan sampai lengah diri dari hal-hal bermanfaat dan berbahaya didunia dan diakhirat dengan demikian ia akan mengambil mana yang bermanfaat dan manjauhi mana yang berbahaya, agar supaya baik akal dan ilmunya tidak menjadi beban pemberat atas dirinya dan menambah siksaan nya.

Dalam masalah kebaikan keistimewaan dan keutamaan ilmu itu banyak lah ayat-ayat Al-Qur’an maupun hadist-hadist shohih dan masyur yang mengemukakannya.

B. Ilmu Yang Fardu Kifayah dan Yang Haram di Pelajari

Adapun mempelajari ilmu yang keperluannya hanya dalam waktu-waktu tertentu , hukumnya adalah fardu kifayah . berarti bila dalam suatu daerah telah terdapat orang yang ,mengetahuinya, maka cukuplah bagi orang lain, tetapi kalau sama sekali tidak ada, maka seluruh penduduk daerah menanggung dosanya .


Ada dikatakan orang :
“ mengetahui ilmu yang diperlukan setiap orang pada setiap saat adalah ibarat makan (dalam arti diperlukan setiap orang disetiap saatnya) dimana wajib atas setiap orang, sedang yang diperlukan dalam waktu-waktu tertentu saja, adalah bagaikan obat dimana diperlukannya pada masa-masa tertentu belaka”.

Ilmu kedokteran itu menjadi salah satu sarana penyebab terwujudnya kesehatan . karena itu boleh dipelajari sebagaimana penyebab-penyebab yang lain. Disamping itu, Nabi SAW sendiri pun pernah berobat hikayat Asy-Syafi’iy pernah berkata:

“ Ilmu itu ada dua macam yaitu ilmu fiqihuntuk kehidupan agama dan ilmu kedokteran untuk kehidupan kesehatan badan , sedang selain itu merupakan pelengkap majelis jua”

C. Keutamaan Ilmu

Keutamaan-keutamaan Ilmu:

1. Ilmu adalah pusaka para nabi,
2. pemilik ilmu temannya banyak,
3. ilmu semakin diamalkan semakin bertambah,
4. pemilik ilmu dipanggil dengan nama keagungan dan kemuliaan,
5. ilmu tidak akan berkarat dan tidak rusak karena umur,
6. ilmu bisa menerangi hati.

D. Keutamaan Menuntut Ilmu

Sesungguhnya Islam adalah agama yang menghargai ilmu pengetahuan. Bahkan Allah sendiri lewat Al Qur’an meninggikan orang-orang yang berilmu dibanding orang-orang awam beberapa derajat. “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajad.” (Al Mujadilah: 11)

Pada surat Ali ‘Imran: 18 Allah SWT bahkan memulai dengan diri-Nya, lalu dengan malaikat-Nya, dan kemudian dengan orang-orang yang berilmu. Jelas kalau Allah menghargai orang-orang yang berilmu. “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu)” (Ali Imran:18)

Allah juga menyatakan bahwa hanya dengan ilmu orang bisa memahami perumpamaan yang diberikan Allah untuk manusia. “Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia, dan tiada memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu” (Al ‘Ankabut:43). Tuhan juga menegaskan hanya dengan ilmulah orang bisa mendapat petunjuk Al Qur’an. “Sebenarnya, Al Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu” (Al Ankabut:49)

Nabi Muhammad SAW juga sangat menghargai orang yang berilmu. “Ulama adalah pewaris para Nabi” Begitu sabdanya seperti yang dimuat di HR. Abu Dawud. Bahkan Nabi tidak tanggung-tanggung lebih menghargai seorang ilmuwan daripada satu kabilah. “Sesungguhnya matinya satu kabilah itu lebih ringan daripada matinya seorang ‘alim.” (HR Thabrani) . Seorang ‘alim juga lebih tinggi dari pada seorang ahli ibadah yang sewaktu-waktu bisa tersesat karena kurangnya ilmu.

“Keutamaan orang ‘alim atas orang ahli ibadah adalah seperti keutamaan diriku atas orang yang paling rendah dari sahabatku.” (HR Tirmidzi)”.

Nabi Muhammad mewajibkan ummatnya untuk menuntut ilmu. “Menuntut ilmu wajib bagi muslimin dan muslimah” begitu sabdanya. “Tuntutlah ilmu dari sejak lahir hingga sampai ke liang lahat.”

Jelas Islam menghargai ilmu pengetahuan dan mewajibkan seluruh ummat Islam untuk mempelajarinya. Karena itu pendapat mayoritas ummat Islam (terutama di pedesaan) yang menganggap bahwa perempuan itu tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, soalnya nanti tinggalnya juga di dapur jelas bertentangan dengan ajaran Islam. Selain itu Nabi juga menyuruh agar ummat Islam menuntut ilmu berkelanjutan hingga ajalnya. Karena itu seorang muslim haruslah berusaha belajar setinggi-tingginya. Jangan sampai kalah dengan orang kafir. Ummat Islam jangan cuma mencukupkan belajar sampai SMA saja, tapi berusahalah hingga Sarjana, Master, bahkan Doktor jika mampu. Jika ada yang tak mampu secara financial, adalah kewajiban kita yang berkecukupan untuk membantunya jika dia ternyata adalah orang yang berbakat.

Sekarang ini, tingkat pengetahuan ummat Islam malah kalah dibandingkan dengan orang-orang kafir. Ternyata justru orang-orang kafir itulah yang mengamalkan ajaran Islam seperti kewajiban menuntut Ilmu setinggi-tingginya. Jarang kita menemukan ilmuwan di antara ummat Islam. Sebaliknya, tingkat buta huruf sangat tinggi di negara-negara Islam. Hal itu jelas menunjukkan bahwa kemunduran ummat Islam bukan karena ajaran Islam, tapi karena ulah ummat Islam sendiri yang tidak mengamalkan perintah agamanya. Ayat pertama dalam Islam adalah “Iqra!” Bacalah! Di situ Allah memperintahkan ummat Islam untuk membaca, tapi ternyata tingkat buta huruf justru paling tinggi di negara-negara Islam. Ini karena kita tidak konsekuen dengan ajaran Islam.

Nabi juga mengatakan, bahwa ilmu yang bermanfaat akan mendapat pahala dari Allah SWT, dan pahalanya berlangsung terus-menerus selama masyarakat menerima manfaat dari ilmunya..

“Apabila anak Adam meninggal, maka terputuslah amalnya kecuali tiga, yaitu ilmu yang bermanfaat, Amal Jariah, dan Anak sholeh.”(HR Muslim)

Pada awal masa Islam, ummat Islam melaksanakan ajaran tersebut dengan sungguh-sungguh, mereka giat menuntut ilmu. Hadits-hadits seperti “Siapa yang meninggalkan kampung halamannya untuk mencari pengetahuan, ia berada di jalan Allah”, “Tinta seorang ulama adalah lebih suci daripada darah seorang syahid (martir)”, memberikan motivasi yang kuat untuk belajar. Tapi itu sekarang tinggal sejarah. Ummat Islam sekarang tidak lagi menghargai ilmu pengetahuan tak heran jika mereka jadi bangsa yang terbelakang. Hanya dengan menghidupkan ajaran Islam-lah kita bisa maju lagi. Ummat Islam harus kembali giat menuntut ilmu. Menurut Al Ghazali, sesungguhnya menuntut ilmu itu ada yang fardu ‘ain (wajib bagi setiap Muslim) ada juga yang fardu kifayah (paling tidak ada segolongan ummat Islam yang mempelajarinya.

Ilmu agama tentang mana yang wajib dan mana yang halal seperti cara shalat yang benar itu adalah wajib bagi setiap muslim. Jangan sampai ada seorang ahli Matematika, tapi cara shalat ataupun mengaji dia tidak tahu. Jadi ilmu agama yang pokok agar setiap muslim bisa mengerjakan 5 rukun Islam dan menghayati 6 rukun Iman serta mengetahui kewajiban dan larangan Allah harus dipelajari oleh setiap muslim.

Adapun ilmu yang memberikan manfaat bagi ummat Islam seperti kedokteran yang mampu menyelamatkan jiwa manusia, ataupun ilmu teknologi persenjataan seperti pembuatan tank dan pesawat tempur agar ummat Islam bisa mempertahankan diri dari serangan musuh adalah fardu kifayah. Paling tidak ada segolongan muslim yang menguasainya.

E. Hadist – Hadist Tentang Ilmu

Hadis-Hadis tentang kewajiban menuntut ilmu

a. اطْلُبُوْا الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ إِلَى اللَّحْدِ
“Carilah ilmu sejak bayi hingga ke liang kubur.”

“segala sesuatu yang ada jalannya dan jalan menuju surga adalah ilmu”(hr.dailany) “orang yang paling utama diantara manusia adalah orang mukmin yang mempunyai ilmu,dimana kalau dibutuhkan (orang) dia membawa manfaat /memberi petunjuk dan dikala sedang tidak dibutuhkan dia memperkaya /menambah sendiri pengetahuannya”.(HR.baihaqi)

b. (داود أبو) الْجَنَّةِ إِلَى طِرِيْقًا بِهِ اللَّهُ سَهَّلَ ، عِلْمًا فِيْهِ يَلْتَمِسُ طَرِيْقًا سَلَكَ مَنْ
“Barangsiapa merintis jalan mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga.” (HR. Muslim)

c. ، رَكْعَةٍ مِائَةَ تُصَلِّيَ اَنْ مِنْ لَّكَ خَيْرٌ اللَّهِ كِتَابِ مِنْ اَيَةً فَتُعَلِّمَ تَغْدَوْا لَأَنْ ، أَبَاذَرٍّ يَا
(ماجة ابن) رَكْعَةٍ أَلْفَ تُصَلِّيَ اَنْ مِنْ خَيْرٌ ،يُعْمَلْ لَمْ اَوْ بِهِ عُمِلَ الْعِلْمِ مِنَ بَابًا فَتُعَلِّمَ تَغْدُوْا وَلَأَنْ
“Hai Abu Dzar, Apabila kamu pergi dan menuntut ilmu satu ayat saja dari Al-Qur’an, itu lebih baik dari pada sholat 100 rakaat,dan sesungguhnya apabila kamu menuntut ilmu satu bab yang kamu ketahui, baik diamalkan atau tidak, lebih baik bagi mu dari pada sholat 1000 rakaat”.(HR. Ibnu Majah).

F. Hukum Menuntut Ilmu

Apabila kita memperhatikan isi Al-Quran dan Al-Hadist, maka terdapatlah beberapa suruhan yang mewajibkan bagi setiap muslim baik laki-laki maupun perempuan, untuk menuntut ilmu, agar mereka tergolong menjadi umat yang cerdas, jauh dari kabut kejahilan dan kebodohan. Menuntut ilmu artinya berusaha menghasilkan segala ilmu, baik dengan jalan menanya, melihat atau mendengar. Perintah kewajiban menuntut ilmu terdapat dalam hadist Nabi Muhammad saw :

Artinya : "Menuntut ilmu adalah fardhu bagi tiap-tiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan". (HR. Ibn Abdulbari).

Dari hadist ini kita memperoleh pengertian, bahwa Islam mewajibkan pemeluknya agar menjadi orang yang berilmu, berpengetahuan, mengetahui segala kemashlahatan dan jalan kemanfaatan; menyelami hakikat alam, dapat meninjau dan menganalisa segala pengalaman yang didapati oleh umat yang lalu, baik yang berhubungan dangan 'aqaid dan ibadat, baik yang berhubungan dengan soal-soal keduniaan dan segala kebutuhan hidup.
Nabi Muhammad saw.bersabda:
وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ ،وَمَنْ أَرَادَ الأَخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ ،مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ

Artinya : "Barang siapa menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia, wajiblah ia memiliki ilmunya ; dan barang siapa yang ingin (selamat dan berbahagia) diakhirat, wajiblah ia mengetahui ilmunya pula; dan barang siapa yang meginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu kedua-duanya pula". (HR.Bukhari dan Muslim)

Islam mewajibkan kita menuntut ilmu-ilmu dunia yang memberi manfaat dan berguna untuk menuntut kita dalam hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan kita di dunia, agar tiap-tiap muslim jangan picik ; dan agar setiap muslim dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan yang dapat membawa kemajuan bagi penghuni dunia ini dalam batas-batas yang diridhai Allah swt. Rasulullah Saw., bersabda:
مُسْلِمٍ كُلِّ عَلَى فَرِيْضَةٌ الْعِلْمِ طَلَبُ

“Menuntut ilmu itu diwajibkan bagi setiap orang Islam”
(Riwayat Ibnu Majah, Al-Baihaqi, Ibnu Abdil Barr, dan Ibnu Adi, dari Anas bin Malik)

Oleh karena itu, ilmu-ilmu seperti ilmu tafsir, ilmu hadist, ilmu bahasa 'arab, ilmu sains seperti perubatan, kejuruteraan, ilmu perundangan dan sebagainya adalah termasuk dalam ilmu yg tidak diwajibkan untuk dituntuti tetapi tidaklah dikatakan tidak perlu, karena ia adalah daripada ilmu fardhu kifayah. Begitu juga dengan ilmu berkaitan dengan tarekat ia adalah sunat dipelajari tetapi perlu difahami bahwa yang paling utama ialah mempelajari ilmu fardhu 'ain terlebih dahulu. Tidak mempelajari ilmu fardhu 'ain adalah suatu dosa karena ia adalah perkara yg wajib bagi kita untuk dilaksanakan dan mempelajari ilmu selainnya tiadalah menjadi dosa jika tidak dituntuti, walau bagaimanapun mempelajarinya amat digalakkan Ilmu yang diamalkan sesuai dengan perintah-perintah syara'. Hukum wajibnya perintah menuntut ilmu itu adakalanya wajib 'ain dan adakalnya wajib kifayah. Sedang ilmu yang wajib kifayah hukum mempelajarinya, ialah ilmu-ilmu yang hanya menjadi pelengkap, misalnya ilmu tafsir, ilmu hadist dan sebagainya. Ilmu yang wajib 'ain dipelajari oleh mukallaf yaitu yang perlu diketahui untuk meluruskan 'aqidah yang wajib dipercayai oleh seluruh muslimin, dan yang perlu di ketahui untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang difardhukan atasnya, seperti shalat, puasa, zakat dan haji.

G. Menuntut Ilmu Sebagai Ibadah

Dilihat dari segi ibadah, sungguh menuntut ilmu itu sangat tinggi nilai dan pahalanya, Nabi Muhammad SAW bersabda ;

Artinya : "Sungguh sekiranya engkau melangkahkan kakinya di waktu pagi (maupun petang), kemudian mempelajari satu ayat dari Kitab Allah (Al-Quran), maka pahalanya lebih baik daripada ibadat satu tahun".

Mengapa menuntut ilmu itu sangat tinggi nilainya dilihat dari segi ibadah? Karena amal ibadah yang tidak dilandasi dengan ilmu yang berhubungan dengan itu, akan sia-sialah amalnya.

Syaikh Ibnu Ruslan dalam hal ini menyatakan :

Artinya : "Siapa saja yang beramal (melaksanakan amal ibadat) tanpa ilmu, maka segala amalnya akan ditolak, yakni tidak diterima".

H. Keutamaan orang berilmu

Orang yang berilmu mempunyai kedudukan yang tinggi dan mulia di sisi Allah dan masyarakat. Al-Quran menggelari golongan ini dengan berbagai gelaran mulia dan terhormat yang menggambarkan kemuliaan dan ketinggian kedudukan mereka di sisi Allah SWT dan makhluk-Nya.

Mereka digelari sebagai "al-Raasikhun fil Ilm" (Al Imran : 7), "Ulul al-Ilmi" (Al Imran : 18), "Ulul al-Bab" (Al Imran : 190), "al-Basir" dan "as-Sami' " (Hud : 24), "al-A'limun" (al-A'nkabut : 43), "al-Ulama" (Fatir : 28), "al-Ahya' " (Fatir : 35) dan berbagai nama baik dan gelaran mulia lain.

Daya usaha untuk memperoleh ilmu melalui berbagai sumber dan panca indera yang dikaruniakan Allah SWT membimbing seseorang ke arah mengenal dan mengakui ketauhidan Rabbul Jalil.
Ini memberi satu isyarat dan petunjuk yang penting bahwa ilmu mempunyai keterkaitan yang amat erat dengan dasar akidah tauhid. Orang yang memiliki ilmu sepatutnya mengenal dan mengakui keesaan Allah SWT dan keagungan-Nya. Hasilnya, orang yang berilmu akan tunduk, kerdil, dan hina berhadapan dengan kekuasaan dan keagungan Allah SWT.

Dalam surat ali Imran ayat ke-18, Allah SWT berfirman:

"Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana".

Ketika menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir membuat suatu rumusan yang menarik bahwa apabila Allah SWT menyandingkan "diri-Nya" dengan para malaikat dan orang yang berilmu tentang penyaksian "keesaan Allah SWT dan kemutlakan-Nya sebagai Tuhan yang layak disembah", hal tersebut adalah suatu penghormatan agung secara khusus kepada orang-orang yang berilmu yang sentiasa bergerak di atas rel kebenaran dan menjunjung tinggi prinsip ini serta berpegang teguh dengannya dalam semua keadaan dan suasana.

Rekaman penghormatan ini kekal sebagaimana kekalnya kitab wahyu ini sebagai peringatan kepada golongan berilmu bahwa mereka amat istimewa di sisi Allah SWT . Mereka diangkat sejajar dengan para malaikat yang menjadi saksi Keesaan Allah SWT. Mereka memikul amanah Allah SWT karena mereka adalah pewaris para nabi.

Sifat ikhlas, berani, dan tegas serta senantiasa istiqamah akan selalu ada dalam diri orang yang berilmu. Mereka tidak mengharapkan ganjaran, sanjungan, dan pujian dari manusia. Keikhlasan mereka adalah hasil daripada ramuan kecintaan dan keyakinan kepada prinsip kebenaran yang menjadi tonggak pegangan mereka.

Orang yang berilmu amat menjunjung tinggi prinsip kebenaran. Mereka tidak menafikan kebenaran dari pihak lain dan tidak pula merasa kebenaran hanya mutlak ada pada dirinya. Berlapang dada dan merendah diri adalah akhlak murni orang yang berilmu.

Mereka tidak melihat dari siapa atau dari golongan mana kebenaran tersebut berasal. Kebenaran sejati yang menjadi pegangan mereka adalah apabila datangnya daripada nash al-Quran al-Karim dan as-Sunnah an-Nabawiyyah.

Keberanian orang yang berilmu adalah hasil keyakinan teguh kepada
kekuatan dan kekuasaan Allah Rabbul Jalil. Firman Allah SWT:

"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama [Orang-orang yang berilmu]. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (Fatir: 28)

Orang-orang yang berilmu memiliki keyakinan bahwa hanya Allah yang Maha Berkuasa atas sekalian makhluk-Nya. Kehinaan di sisi manusia karena mempertahankan prinsip kebenaran dipandang lebih baik dan mulia daripada kehinaan di sisi Allah SWT karena menampik kebenaran hanya untuk menarik perhatian dan mendapatkan pujian manusia. Mereka amat yakin bahwa menyatakan kebenaran dan perkara hak adalah amanah Allah SWT dan mereka pun mengetahui resikonya amat besar.

Peringatan Allah dan Rasul-Nya sangat keras terhadap kalangan yang menyembunyikan kebenaran/ilmu, sebagaimana firman-Nya:

"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati pula oleh semua (mahluk) yang dapat melaknati." (al-Baqarah: 159)

Rasulullah saw bersabda:
"Janganlah sekali-kali wibawa manusia sampai menghalangi seseorang untuk mengatakan sesuatu yang hak jika ia mengetahuinya, menyaksikannya, atau mendengarnya. Sebab tindakannya itu tidak akan mendekatkan ajal dan tidak akan menjauhkannya dari rezeki." (HR Ahmad)

Rasulullah saw juga bersabda:
"Barang siapa yang menyembunyikan ilmu, akan dikendali mulutnya oleh Allah pada hari kiamat dengan kendali dari api neraka." (HR Ibnu Hibban di dalam kitab sahih beliau. Juga diriwayatkan oleh al-Hakim. Al Hakim dan adz-Dzahabi berpendapat bahwa hadits ini sahih)

Orang yang berilmu mengetahui bagaimana kerusakan yang akan timbul dari amal yang tanpa ilmu, sebagaimana yang dikatakan khalifah Umar bin Abdul Aziz "Barang siapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu maka dia banyak merusak dari pada memperbaiki"

Yang menjadi panutan orang-orang berilmu adalah Rasulullah saw dan para sahabat beliau yang mulia. Karena hanya dengan mengikuti jalan Rasulullah dan para sahabatlah yang akan memasukkan seorang muslim kedalam golongan yang selamat. Sebagaimana Sabda Rasulullah saw:

"Semua golongan tersebut tempatnya di neraka, kecuali satu (yaitu) yang aku dan para sahabatku meniti diatasnya" (HR Tirmidzi)

Imam Bukhari dalam kitabnya "Berpegang Teguh pada Kitab dan Sunnah"
memberi judul salah satu dari sekian bab (yang artinya):
"Nabi SAW mengajarkan kepada umat-nya, baik laki-laki maupun wanita, apa yang diajarkan Allah kepadanya tanpa menggunakan pendapat atau pemisalan."

Al-Muhallab berkata ketika mengomentari bab Bukhari ini: "Maksud Bukhari bahwa seorang yang berilmu apabila dia berbicara dengan menggunakan nash, tidak perlu lagi berbicara berdasarkan pendapat dan qiyasnya (analogi). "

Tafsir Surat Al-Luqman, Ayat 12-15

A. SURAT AL- LUQMAN AYAT 12-15
B. TERJEMAHAN MUFRADAT

تينا ا: Kami berikan
يشكر : bersyukur
الحكمة : dari kata حكمةyang artinya hikmah
شكرللهن ا: bahwa hikmah adalah syukur
غني : kecukupan, baik menyangkut harta maupun selainnya.
حميد : Maha Terpuji
ابنه : dari kata ابن yakni anak laki-laki
احملته : yang telah mengandungnya
وهنا : lemah
وهن على: bertambah lemah
له فصا: menyapihnya
مين عا: dua tahun
المصير : tempat kembali
يعظه : nasihat menyangkut berbagia kebajikan dengan cara menyentuh hati
جاهداك : dari kata جهد kemampuan
حبهما صا: pergauilah keduanya
معروفا : segala hal yang dinilai oleh masyarakat baik
ب انا من: orang yang kembali
مرجعكم : tempat kembalimu
فانبئكم : maka Ku kabarkan kepadamu

C. TERJEMAHAN SURAT AL-LUQMAN AYAT 12-15

Atu ia memberi nasehat kepadanya: Hai anakku sayang! Janganlah engkau menyekutukan Allah, karena sesungguhnya syirik itu sungguh suatu aniaya (dosa) yang sangat besar.
14. Dan Kami perintahkan kepada semua manusia (supaya berbuat baik) kepada kedua orang tuanya; ibunya telah mengandungnya dengan lemah dan bertambah lemah dan (kemudian) menyapihkannya dalam (usia) dua tahun; Oleh karena itu hendaklah engkau bersyukur kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu; Kepada-Kulah tempat kembali.
15. Dan jika kedua orang tuamu itu bersungguh-sungguh (memaksamu) supaya engkau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mengetahuinya, maka janganlah engkau ta’ati mereka itu, tetapi bersahabatlah engkau dengan mereka itu di dunia ini dengan sebaik-baiknya dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian kepada-Kulah tempat kembalimu, lalu akan Kuterangkan kepadamu apa saja yang pernah kamu kerjakan itu. (Q.S. Luqman)

D. SABABUN NUZUL

Al- Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam Tafsirnya, dari Sa’ad bin Abi Waqqash ra. Ia berkata: Aku adalah seseorang pria yang amat mencintai ibuku. Tetapi setelah aku masuk Islam, ibuku itu berkata kepadaku: Hai sa’ad! Agama apa ini, kulihat engkau mengada-ada. Tinggalkan agamamu ini atau aku akan mogok makan dan minum, sampai mati. Dengan begitu engkau akan tercemar lantaran aku, yaitu engkau akan dituduh sebagai pembunuh ibunya. Begitulah lalu aku berkata kepada ibuku: Hai Ibu! Jangan engkau kerjakan itu semua, tetapi aku juga tidak bakal meninggalkan agamaku ini selama-lamanya karena faktor apapun.
Ibuku nekad, sehari semalam sudah mulai tidak makan dan tidak minum. Pagi harinya sudah tampak sangat letih. Hari kedua dia tidak mau makan juga dan badannya sudah semakin bertambah letih. Hari ketigapun tidak mau makan dan badannya semakin bertambah letih.
Melihat keadaan yang demikian itu, aku kemudian berkata kepadanya: Hai Ibu! Ketahuilah, demi Allah! Seandainya engkau mempunyai seratus nyawa, lalu nyawa itu keluar satu persatu (dengan bertahap), namun aku tetap tidak akan mau meninggalkan agamaku ini, karena faktor apapun. Jika engkau sudi, makanlah dan jika engkau tidak sudi, jangan makan.
Melihat keteguhan Sa’ad yang demikian itu, akhirnya Ibunya mau makan. Lalu Allah menurunkan ayat “Dan jika kedua orang tuamu itu sungguh-sungguh memaksamu agar engkau menyekutukan aku…..dst”.232)

E. KETERANGAN DAN TAFSIR SURAH LUQMAN AYAT 12-15

1. Ayat 12
Imam Ghazali menyatakan hikmah harus yakin sepenuhnya tentang pengetahuan dan tindakan yang diambilnya, sehingga dia akan tampil dengan penuh percaya diri, tidak berbicara dengan ragu atau kira-kira dan tidak pula melakukan sesuatu dengan coba-coba. Sehingga ia memahami kata hikmah dalam artian pengetahuan tentang sesuatu yang paling utam-ilmu yang paling utama dan wujud yang paling agung yakni Allah swt.
Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa Allah telah menganugerahkan kepada Luqman berupa hikmah, yaitu perasaan yang halus, akal pikiran dan ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan itu luqman sampai kepada pengetahuan hakiki dan jalan yang benar dan bahkan dapat pencapai kebahagian abadi. Oleh karena itu, Allah memerintahkan kepada Luqman untuk senantiasa bersyukur kepada-Nya. Mensyukuri nikmat Allah berarti berterima kasih kepada Allah atas kenikmatan yang telah dianugerahkan kepada dirinya. Bersyukur bukan berarti untuk kepentingan-Nya, melainkan untuk kemashalatan diri sendiri bahkan berguna bagi orang lain. Keuntunganya akan kembali kepada orang yang bersyukur tadi.
Dari penjelasan tersebut nyatalah bahwa karunia yang Allah berikan kepada manusia itu tidak terbatas, lantas apakah manusia tidak mensyukurinya, sehingga syukur itu terbagi menjadi tiga bagian:
1. Syukur dengan hati, yakni dengan menyadari sepenuh-penuhnya nikmat yang diperoleh adalah semata-mata karena anugerah dan nikmat dari Allah. Syukur dengan hati mengantarkan manusia untuk menerima anugerah dengan penuh kerelaan tanpa harus berkeberatan betapapun kecilnya nikmat tersebut.
2. Syukur dengan lisan, Syukur dengan lidah adalah mengakui dengan ucapan bahwa sumber nikmat adalah Allah sambil memuji-Ny. Di dalam al-qur’an pujian kepada Allah disampaikan dengan redaksi ‘’al-hamdulillah’’. Hamd (pujian) disampaikan secara lisan kepada yang dipuji, walaupun ia tidak memberi apa pun baik kepada si pemuji ataupun kepada yang lain.
3. Syukur dengan perbuatan, menggunakan nikmat yang diperoleh itu sesuai dengan tujuan penciptaan atau penganugerahanya. Ini berarti, setiap nikmat yang diperoleh menuntut penerimanya agar merenungkan tujuan dianugerahkanya nikmat tersebut oleh Allah

2. Ayat 13
Ayat ini melukiskan Luqman mengamalkan hikmah yang telah dianugerahkan kepadanya. Umat islam diperintah untuk meniru perilaku Luqman. Adapun bentuk perintah Allah kepada Luqman adalah agar tidak menyekutukan Allah.
Ada dua pendapat Luqman, yaitu:
1. Luqman Ibn ‘Ad, tokoh ini mereka agungkan karena wibawa, kepmimpinan, ilmu, kefasihan, dan kepandaiannya. Ia kerap kali dijadikan sebagai permisalan dan perumpamaan
2. Luqman al-Hakim, yang terkenal dengan kata-kata bijak dan perumpamaan-perumpamaannya.
Dan juga Luqman memulai nasihatnya dengan menekankan perlunya menghindari syirik. Larangan ini sekaligus mengandung pengajaran tentang wujud keesaan Tuhan. Bahwa redaksi pesannya berbentuk larangan, jangan mempersekutukan Allah untuk menekan perlunya meninggalkan Sesutu yang buruk sebelum melaksanakan yang baik.
Bahwasanya Banyak bentuk mempersekutukan Tuhan dengan yang lainnya, seperti menyembah pohon atau kuburan keramat yang dianggap memberi pertolongan, dan lain sebagainya. Dari ayat ini pula dapat dipahami bahwa antara kewajiban orangtua kepada anak-anaknya ialah memberi nasihat dan didikan, sehinga anak-anak mereka menjadi anak yang shaleh, taat menjalankan perintah Agama sehingga terhindar dari kesesatan dan kemusyrikan.
Orang tua harus memperhatikan pendidikan bagi anak-anaknya. Orangtua tidak boleh menganggap cukup apabila telah menyediakan segala kebutuhan fisiknya, seperti sandang, pangan, papan, kesehatan dan kesenangan lahiriyah lainnya. Justru yang sangat penting adlah memperhatikan kebutuhan rohani berupa pendidikan Agama maupun pendidikan keilmua lainnya dan keterampilan.

3. Ayat 14
Bahwa Allah memerintahkan kepada manusia agar berbakti kepada orangtua, lebih-lebih kepada Ibu yang telah mengandung. Ayat ini tidak menyebut jasa Bapak, tetapi menekankan pada jasa Ibu. Ini disebabkan karena ibu berpotensi untuk tidak dihiraukan oleh anak karena kelemahan Ibu, berbeda dengan Bapak. Di sisi lain,,” peranana Bapak” dalam konteks kelahiran anak, lebih ringan dibanding dengan peranan Ibu. Betapapun peranan tidak sebesar peranan ibu dalam proses kelahiran anak, namun jasanya tidak diabaikan karena itu anak berkewajiban berdoa untuk ayahya, sebagai berdoa untuk ibunya. Karena begitu besar jasa Ibu, dalam sebuah hadis dinyatakan bahwa: Seorang sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, siapa yang paling berhak memperoleh pelayanan dan persahabatanku?" Nabi Saw menjawab, "ibumu...ibumu...ibumu, kemudian ayahmu dan kemudian yang lebih dekat kepadamu dan yang lebih dekat kepadamu." (Mutafaq'alaih).
Karena itulah, setiap anak harus menyadari perjuangan dan susah payah orangtuanya. Di samping harus taat kepada ajaran agama, berbakti kepada kedua orang tua, juga harus berusah keras belajar dan menunut ilmu pengetahuan terutama ilmu-ilmu agama, sehingga mereka bersama-sama kedua orang tuanya memperoleh kesejahteraan hidup di dunia dan kebahagian di akhirat kelak.
Dalam surah lain pula disebutkan seperti surah al-Baqarah:83, an-Nisa:36, al-An’am:151, dan al-Isra’:23 membahas tentang perlunya berbakti kepada orang tua. Sedangkan surah Luqman menyampaikan pesan untuk berbkati kepada orangtua dalam bentuk perintah Allah.

4. Ayat 15
Ayat di atas menyatakan bahwa jika orang tua memask untuk mempersekutukan Allah, maka janganlah mematuhinya. Setiap perintah untuk perbuatan maksiat,maka tidak boleh ditaati.namun demikian, jangan memutuskan hubungam sitalurahmi dengan tetaplah menghormatinya sebagai orang tua.berbaktilah kepada mereka sepanjang tidak menyimpang dari ajaran Agama dan bergaullah dengan mereka menyangkut keduniaan, bukan aqidah. Dalam surah al-Ankabut: 8, Artinya: “Dan kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya. dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan.”

Hukum ini berlaku untuk seluruh Umat Nabi Muhammad, yaitu melarang ketaatan anak untuk mengikuti kehendak orangtuanya yang bertentangan dengan ajaran agama.
Dan juga sebagaimana dalan sebuah riwayat bahwa Asma’ Putri Sayyidina Abu Bakr ra. Pernah didatangi oleh ibunya yang ketika itu masih musyrikah, Asma’ bertanya kepada nabi bagaimana seharusnya ia bersikap, maka Rasul saw memerintahkannya untuk tetap menjalin hubungan baik, menerima dan memberinya hadiah serta mengunjungi dan menyambut kujungannya.

F. PENDIDIKAN YANG DIBERIKAN KEPADA ANAK

Di dalam ayat tersebut diceritakan bahwa pada zaman dahulu ada hamba Allah yang saleh, bernama Lukman. Menurut Tafsir Jalalain, Lukman adalah seorang Mufti (Pemberi Fatwa) yang hidup sebelum Nabi Daud As. Sedangkan menurut tafsir Munir, Lukman adalah anak dari Baura Ibn Azar, Yaitu anak saudara perempuan Nabi Ayyub As. Dia diberikan hikmah, yaitu pengetahuan yang mendalam tentang sistematika berfikir, kepandaian dalam berbicara, dan kebersihan hati. Dalam dirinya terpadu kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Sehingga pantas dirinya diabadikan dalam Al Quran. Dalam kehidupan Rumah Tangganya, beliau termasuk seorang bapak yang gigih dalam mendidik anak-anaknya.
Pada QS Lukman ayat 12 terdapat perintah Allah untuk bersyukur kepada Allah, karena pada dasarnya bersyukur itu adalah untuk manusia itu sendiri, bukan untuk Allah SWT.
Pendidikan pertama yang ditanamkan kepada anaknya adalah tentang keimanan dan tauhid kepada Allah sebagaimana tercantum dalam surat Lukman ayat 13.


Artinya: “Janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah itu adalah kezaliman yang paling besar.”

Selanjutnya adalah perintah untuk berbuat baik kepada ibu bapak, keduanya wajib dihormati, karena keduanyalah yang telah bersusah payah dalam mengurus dan membesarkan kita. Terutama ibu, dia telah mengandung dengan susah payah selama sembilan bulan lamanya, kemudian menyusui, dan mengasuhnya sampai kita dewasa. Sebagaimana dalam Surat Lukman ayat 14. bahkan dijelaskan dalam ayat lain yaitu pada surat Al Isro ayat 23 bahwa mengatakan ‘ah’ pun kita tidak boleh terhadap kedua orang tua.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia .”

Pelajaran berikutnya adalah bersyukur kepada Allah SWT dan berterimakasih kepada kaedua ibu bapak, sesuai dengan potongan ayat yang artinya:

Artinya: “….bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua ibu bapakmu, hanya kepadaKulah tempat kembalimu………”

Setiap kita wajib untuk taat dan patuh kepada kedua ibu bapak, karena disamping kita berhutang budi kepada keduanya, juga merupakan perintah Allah SWT. Namun, jika kedua ibu bapak kita memaksa kita untuk berbuat syirik (mempersekutukan Allah) atau menyuruh berbuat sesuatu yang melanggar aturan-aturan Allah SWT, maka tidak wajib wajib bagi kita untuk mentaati perintah keduanya. Namun tetap kita wajib bergaul dan memperlakukan ibu bapak kita di dunia dengan baik. Sebagaimana firman Allah SWT.

Artinya: “…dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuannya tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya di dunia dengan baik ……”