Apakah Blogger ini Menarik?

Friday, May 27, 2011

Tafsir Surat Al-Luqman, Ayat 12-15

A. SURAT AL- LUQMAN AYAT 12-15
B. TERJEMAHAN MUFRADAT

تينا ا: Kami berikan
يشكر : bersyukur
الحكمة : dari kata حكمةyang artinya hikmah
شكرللهن ا: bahwa hikmah adalah syukur
غني : kecukupan, baik menyangkut harta maupun selainnya.
حميد : Maha Terpuji
ابنه : dari kata ابن yakni anak laki-laki
احملته : yang telah mengandungnya
وهنا : lemah
وهن على: bertambah lemah
له فصا: menyapihnya
مين عا: dua tahun
المصير : tempat kembali
يعظه : nasihat menyangkut berbagia kebajikan dengan cara menyentuh hati
جاهداك : dari kata جهد kemampuan
حبهما صا: pergauilah keduanya
معروفا : segala hal yang dinilai oleh masyarakat baik
ب انا من: orang yang kembali
مرجعكم : tempat kembalimu
فانبئكم : maka Ku kabarkan kepadamu

C. TERJEMAHAN SURAT AL-LUQMAN AYAT 12-15

Atu ia memberi nasehat kepadanya: Hai anakku sayang! Janganlah engkau menyekutukan Allah, karena sesungguhnya syirik itu sungguh suatu aniaya (dosa) yang sangat besar.
14. Dan Kami perintahkan kepada semua manusia (supaya berbuat baik) kepada kedua orang tuanya; ibunya telah mengandungnya dengan lemah dan bertambah lemah dan (kemudian) menyapihkannya dalam (usia) dua tahun; Oleh karena itu hendaklah engkau bersyukur kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu; Kepada-Kulah tempat kembali.
15. Dan jika kedua orang tuamu itu bersungguh-sungguh (memaksamu) supaya engkau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mengetahuinya, maka janganlah engkau ta’ati mereka itu, tetapi bersahabatlah engkau dengan mereka itu di dunia ini dengan sebaik-baiknya dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian kepada-Kulah tempat kembalimu, lalu akan Kuterangkan kepadamu apa saja yang pernah kamu kerjakan itu. (Q.S. Luqman)

D. SABABUN NUZUL

Al- Hafizh Ibnu Katsir berkata dalam Tafsirnya, dari Sa’ad bin Abi Waqqash ra. Ia berkata: Aku adalah seseorang pria yang amat mencintai ibuku. Tetapi setelah aku masuk Islam, ibuku itu berkata kepadaku: Hai sa’ad! Agama apa ini, kulihat engkau mengada-ada. Tinggalkan agamamu ini atau aku akan mogok makan dan minum, sampai mati. Dengan begitu engkau akan tercemar lantaran aku, yaitu engkau akan dituduh sebagai pembunuh ibunya. Begitulah lalu aku berkata kepada ibuku: Hai Ibu! Jangan engkau kerjakan itu semua, tetapi aku juga tidak bakal meninggalkan agamaku ini selama-lamanya karena faktor apapun.
Ibuku nekad, sehari semalam sudah mulai tidak makan dan tidak minum. Pagi harinya sudah tampak sangat letih. Hari kedua dia tidak mau makan juga dan badannya sudah semakin bertambah letih. Hari ketigapun tidak mau makan dan badannya semakin bertambah letih.
Melihat keadaan yang demikian itu, aku kemudian berkata kepadanya: Hai Ibu! Ketahuilah, demi Allah! Seandainya engkau mempunyai seratus nyawa, lalu nyawa itu keluar satu persatu (dengan bertahap), namun aku tetap tidak akan mau meninggalkan agamaku ini, karena faktor apapun. Jika engkau sudi, makanlah dan jika engkau tidak sudi, jangan makan.
Melihat keteguhan Sa’ad yang demikian itu, akhirnya Ibunya mau makan. Lalu Allah menurunkan ayat “Dan jika kedua orang tuamu itu sungguh-sungguh memaksamu agar engkau menyekutukan aku…..dst”.232)

E. KETERANGAN DAN TAFSIR SURAH LUQMAN AYAT 12-15

1. Ayat 12
Imam Ghazali menyatakan hikmah harus yakin sepenuhnya tentang pengetahuan dan tindakan yang diambilnya, sehingga dia akan tampil dengan penuh percaya diri, tidak berbicara dengan ragu atau kira-kira dan tidak pula melakukan sesuatu dengan coba-coba. Sehingga ia memahami kata hikmah dalam artian pengetahuan tentang sesuatu yang paling utam-ilmu yang paling utama dan wujud yang paling agung yakni Allah swt.
Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa Allah telah menganugerahkan kepada Luqman berupa hikmah, yaitu perasaan yang halus, akal pikiran dan ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan itu luqman sampai kepada pengetahuan hakiki dan jalan yang benar dan bahkan dapat pencapai kebahagian abadi. Oleh karena itu, Allah memerintahkan kepada Luqman untuk senantiasa bersyukur kepada-Nya. Mensyukuri nikmat Allah berarti berterima kasih kepada Allah atas kenikmatan yang telah dianugerahkan kepada dirinya. Bersyukur bukan berarti untuk kepentingan-Nya, melainkan untuk kemashalatan diri sendiri bahkan berguna bagi orang lain. Keuntunganya akan kembali kepada orang yang bersyukur tadi.
Dari penjelasan tersebut nyatalah bahwa karunia yang Allah berikan kepada manusia itu tidak terbatas, lantas apakah manusia tidak mensyukurinya, sehingga syukur itu terbagi menjadi tiga bagian:
1. Syukur dengan hati, yakni dengan menyadari sepenuh-penuhnya nikmat yang diperoleh adalah semata-mata karena anugerah dan nikmat dari Allah. Syukur dengan hati mengantarkan manusia untuk menerima anugerah dengan penuh kerelaan tanpa harus berkeberatan betapapun kecilnya nikmat tersebut.
2. Syukur dengan lisan, Syukur dengan lidah adalah mengakui dengan ucapan bahwa sumber nikmat adalah Allah sambil memuji-Ny. Di dalam al-qur’an pujian kepada Allah disampaikan dengan redaksi ‘’al-hamdulillah’’. Hamd (pujian) disampaikan secara lisan kepada yang dipuji, walaupun ia tidak memberi apa pun baik kepada si pemuji ataupun kepada yang lain.
3. Syukur dengan perbuatan, menggunakan nikmat yang diperoleh itu sesuai dengan tujuan penciptaan atau penganugerahanya. Ini berarti, setiap nikmat yang diperoleh menuntut penerimanya agar merenungkan tujuan dianugerahkanya nikmat tersebut oleh Allah

2. Ayat 13
Ayat ini melukiskan Luqman mengamalkan hikmah yang telah dianugerahkan kepadanya. Umat islam diperintah untuk meniru perilaku Luqman. Adapun bentuk perintah Allah kepada Luqman adalah agar tidak menyekutukan Allah.
Ada dua pendapat Luqman, yaitu:
1. Luqman Ibn ‘Ad, tokoh ini mereka agungkan karena wibawa, kepmimpinan, ilmu, kefasihan, dan kepandaiannya. Ia kerap kali dijadikan sebagai permisalan dan perumpamaan
2. Luqman al-Hakim, yang terkenal dengan kata-kata bijak dan perumpamaan-perumpamaannya.
Dan juga Luqman memulai nasihatnya dengan menekankan perlunya menghindari syirik. Larangan ini sekaligus mengandung pengajaran tentang wujud keesaan Tuhan. Bahwa redaksi pesannya berbentuk larangan, jangan mempersekutukan Allah untuk menekan perlunya meninggalkan Sesutu yang buruk sebelum melaksanakan yang baik.
Bahwasanya Banyak bentuk mempersekutukan Tuhan dengan yang lainnya, seperti menyembah pohon atau kuburan keramat yang dianggap memberi pertolongan, dan lain sebagainya. Dari ayat ini pula dapat dipahami bahwa antara kewajiban orangtua kepada anak-anaknya ialah memberi nasihat dan didikan, sehinga anak-anak mereka menjadi anak yang shaleh, taat menjalankan perintah Agama sehingga terhindar dari kesesatan dan kemusyrikan.
Orang tua harus memperhatikan pendidikan bagi anak-anaknya. Orangtua tidak boleh menganggap cukup apabila telah menyediakan segala kebutuhan fisiknya, seperti sandang, pangan, papan, kesehatan dan kesenangan lahiriyah lainnya. Justru yang sangat penting adlah memperhatikan kebutuhan rohani berupa pendidikan Agama maupun pendidikan keilmua lainnya dan keterampilan.

3. Ayat 14
Bahwa Allah memerintahkan kepada manusia agar berbakti kepada orangtua, lebih-lebih kepada Ibu yang telah mengandung. Ayat ini tidak menyebut jasa Bapak, tetapi menekankan pada jasa Ibu. Ini disebabkan karena ibu berpotensi untuk tidak dihiraukan oleh anak karena kelemahan Ibu, berbeda dengan Bapak. Di sisi lain,,” peranana Bapak” dalam konteks kelahiran anak, lebih ringan dibanding dengan peranan Ibu. Betapapun peranan tidak sebesar peranan ibu dalam proses kelahiran anak, namun jasanya tidak diabaikan karena itu anak berkewajiban berdoa untuk ayahya, sebagai berdoa untuk ibunya. Karena begitu besar jasa Ibu, dalam sebuah hadis dinyatakan bahwa: Seorang sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, siapa yang paling berhak memperoleh pelayanan dan persahabatanku?" Nabi Saw menjawab, "ibumu...ibumu...ibumu, kemudian ayahmu dan kemudian yang lebih dekat kepadamu dan yang lebih dekat kepadamu." (Mutafaq'alaih).
Karena itulah, setiap anak harus menyadari perjuangan dan susah payah orangtuanya. Di samping harus taat kepada ajaran agama, berbakti kepada kedua orang tua, juga harus berusah keras belajar dan menunut ilmu pengetahuan terutama ilmu-ilmu agama, sehingga mereka bersama-sama kedua orang tuanya memperoleh kesejahteraan hidup di dunia dan kebahagian di akhirat kelak.
Dalam surah lain pula disebutkan seperti surah al-Baqarah:83, an-Nisa:36, al-An’am:151, dan al-Isra’:23 membahas tentang perlunya berbakti kepada orang tua. Sedangkan surah Luqman menyampaikan pesan untuk berbkati kepada orangtua dalam bentuk perintah Allah.

4. Ayat 15
Ayat di atas menyatakan bahwa jika orang tua memask untuk mempersekutukan Allah, maka janganlah mematuhinya. Setiap perintah untuk perbuatan maksiat,maka tidak boleh ditaati.namun demikian, jangan memutuskan hubungam sitalurahmi dengan tetaplah menghormatinya sebagai orang tua.berbaktilah kepada mereka sepanjang tidak menyimpang dari ajaran Agama dan bergaullah dengan mereka menyangkut keduniaan, bukan aqidah. Dalam surah al-Ankabut: 8, Artinya: “Dan kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya. dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan.”

Hukum ini berlaku untuk seluruh Umat Nabi Muhammad, yaitu melarang ketaatan anak untuk mengikuti kehendak orangtuanya yang bertentangan dengan ajaran agama.
Dan juga sebagaimana dalan sebuah riwayat bahwa Asma’ Putri Sayyidina Abu Bakr ra. Pernah didatangi oleh ibunya yang ketika itu masih musyrikah, Asma’ bertanya kepada nabi bagaimana seharusnya ia bersikap, maka Rasul saw memerintahkannya untuk tetap menjalin hubungan baik, menerima dan memberinya hadiah serta mengunjungi dan menyambut kujungannya.

F. PENDIDIKAN YANG DIBERIKAN KEPADA ANAK

Di dalam ayat tersebut diceritakan bahwa pada zaman dahulu ada hamba Allah yang saleh, bernama Lukman. Menurut Tafsir Jalalain, Lukman adalah seorang Mufti (Pemberi Fatwa) yang hidup sebelum Nabi Daud As. Sedangkan menurut tafsir Munir, Lukman adalah anak dari Baura Ibn Azar, Yaitu anak saudara perempuan Nabi Ayyub As. Dia diberikan hikmah, yaitu pengetahuan yang mendalam tentang sistematika berfikir, kepandaian dalam berbicara, dan kebersihan hati. Dalam dirinya terpadu kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Sehingga pantas dirinya diabadikan dalam Al Quran. Dalam kehidupan Rumah Tangganya, beliau termasuk seorang bapak yang gigih dalam mendidik anak-anaknya.
Pada QS Lukman ayat 12 terdapat perintah Allah untuk bersyukur kepada Allah, karena pada dasarnya bersyukur itu adalah untuk manusia itu sendiri, bukan untuk Allah SWT.
Pendidikan pertama yang ditanamkan kepada anaknya adalah tentang keimanan dan tauhid kepada Allah sebagaimana tercantum dalam surat Lukman ayat 13.


Artinya: “Janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah itu adalah kezaliman yang paling besar.”

Selanjutnya adalah perintah untuk berbuat baik kepada ibu bapak, keduanya wajib dihormati, karena keduanyalah yang telah bersusah payah dalam mengurus dan membesarkan kita. Terutama ibu, dia telah mengandung dengan susah payah selama sembilan bulan lamanya, kemudian menyusui, dan mengasuhnya sampai kita dewasa. Sebagaimana dalam Surat Lukman ayat 14. bahkan dijelaskan dalam ayat lain yaitu pada surat Al Isro ayat 23 bahwa mengatakan ‘ah’ pun kita tidak boleh terhadap kedua orang tua.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia .”

Pelajaran berikutnya adalah bersyukur kepada Allah SWT dan berterimakasih kepada kaedua ibu bapak, sesuai dengan potongan ayat yang artinya:

Artinya: “….bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua ibu bapakmu, hanya kepadaKulah tempat kembalimu………”

Setiap kita wajib untuk taat dan patuh kepada kedua ibu bapak, karena disamping kita berhutang budi kepada keduanya, juga merupakan perintah Allah SWT. Namun, jika kedua ibu bapak kita memaksa kita untuk berbuat syirik (mempersekutukan Allah) atau menyuruh berbuat sesuatu yang melanggar aturan-aturan Allah SWT, maka tidak wajib wajib bagi kita untuk mentaati perintah keduanya. Namun tetap kita wajib bergaul dan memperlakukan ibu bapak kita di dunia dengan baik. Sebagaimana firman Allah SWT.

Artinya: “…dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuannya tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya di dunia dengan baik ……”

No comments:

Post a Comment